Blooming Healthcare

Doom Scrolling: Kecanduan Informasi Menjadi Sumber Stres

Di era digital, informasi mengalir tanpa henti. Setiap detik, media sosial dan portal berita menampilkan ratusan kabar baru — dari politik, bencana, hingga gosip selebriti. Di tengah arus itu, muncul satu kebiasaan yang kini dianggap berbahaya bagi kesehatan mental, yaitu doom scrolling. Istilah ini merujuk pada kebiasaan terus-menerus menggeser layar ponsel untuk membaca berita negatif, bahkan ketika hal itu menimbulkan kecemasan dan kelelahan emosional. Fenomena ini kian marak sejak pandemi COVID-19, ketika masyarakat mencari kepastian di tengah ketidakpastian. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan, banyak orang justru terjebak dalam lingkaran stres akibat terlalu banyak mengonsumsi informasi buruk.

Cara Mengatasi Stres

Apa Itu Doom Scrolling

Doom scrolling berasal dari dua kata: doom yang berarti malapetaka, dan scrolling yang berarti menggulir layar. Artinya, kebiasaan ini menggambarkan tindakan seseorang yang terus membaca berita atau konten negatif tanpa bisa berhenti, meskipun sadar bahwa hal tersebut berdampak buruk pada perasaan dan pikiran. Kebiasaan ini sering terjadi secara tidak sadar. Saat membuka media sosial untuk “sekadar cek berita,” seseorang bisa terjebak selama berjam-jam membaca komentar, laporan tragedi, atau perdebatan politik yang membuat stres. Hal ini menciptakan siklus kecemasan yang sulit diputus.


Mengapa Doom Scrolling Terjadi

Beberapa faktor psikologis dan teknologi berkontribusi pada munculnya perilaku ini:

1. Naluri Mencari Keamanan (Negativity Bias)

Otak manusia secara alami lebih peka terhadap berita negatif dibanding positif. Hal ini merupakan mekanisme bertahan hidup—kita lebih waspada terhadap ancaman. Sayangnya, dalam konteks modern, sifat ini membuat kita cenderung mengkonsumsi berita buruk berlebihan.

2. Rasa Takut Tertinggal (FOMO)

Fear of Missing Out atau FOMO membuat seseorang ingin selalu up to date agar tidak ketinggalan informasi. Akibatnya, setiap notifikasi berita terasa penting, padahal tidak semuanya relevan atau bermanfaat.

3. Algoritma Media Sosial

Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Algoritma mereka sering menampilkan konten yang memancing emosi—marah, takut, atau penasaran—karena hal itu meningkatkan interaksi. Tanpa disadari, pengguna terjebak dalam infinite scroll.

4. Kebutuhan Akan Kontrol

Di saat situasi dunia terasa kacau, membaca berita dianggap memberi rasa “mengontrol” keadaan. Namun, informasi berlebih justru memicu stres karena memperlihatkan betapa kecilnya kendali kita terhadap banyak hal.


Dampak Negatif Doom Scrolling

Kebiasaan doom scrolling bukan hanya menguras waktu, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental dan fisik secara signifikan.

1. Meningkatkan Stres dan Kecemasan

Terlalu banyak paparan berita buruk meningkatkan hormon stres seperti kortisol. Akibatnya, seseorang lebih mudah gelisah, sulit fokus, dan merasa lelah secara emosional.

2. Gangguan Tidur

Banyak orang melakukan doom scrolling sebelum tidur. Paparan cahaya biru dari layar serta emosi negatif dari berita membuat otak tetap aktif, menghambat produksi melatonin, dan menyebabkan insomnia.

3. Menurunkan Produktivitas

Waktu yang dihabiskan untuk membaca berita negatif bisa mencapai berjam-jam per hari. Akibatnya, fokus terhadap pekerjaan, belajar, atau aktivitas penting lainnya berkurang drastis.

4. Menyebabkan Pandangan Pesimis terhadap Dunia

Konsumsi konten negatif berlebihan membuat seseorang merasa dunia adalah tempat yang berbahaya. Akibatnya, timbul perasaan takut, tidak berdaya, dan kehilangan harapan.

5. Menurunkan Kesehatan Fisik

Stres kronis dari doom scrolling bisa memicu sakit kepala, gangguan pencernaan, peningkatan tekanan darah, hingga penurunan sistem imun tubuh.


Tanda-Tanda Kamu Mengalami Doom Scrolling

Beberapa tanda umum seseorang terjebak dalam perilaku doom scrolling antara lain:

  • Tidak bisa berhenti membaca berita meskipun sudah merasa cemas.
  • Menghabiskan waktu lama di media sosial tanpa tujuan jelas.
  • Tidur terganggu karena terus mengikuti berita.
  • Merasa gelisah atau sedih setelah membaca berita.
  • Mengabaikan kegiatan penting karena sibuk melihat layar.

Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, artinya saatnya mengambil langkah untuk mengendalikan kebiasaan ini.


Cara Mengatasi Doom Scrolling

Menghentikan doom scrolling tidak harus berarti berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah kesadaran, pengendalian, dan batasan yang sehat dalam mengkonsumsi informasi. Berikut beberapa strategi efektif:

1. Batasi Waktu Mengakses Media Sosial

Gunakan fitur screen time di ponsel untuk mengatur batas waktu penggunaan aplikasi berita dan media sosial. Mulailah dengan mengurangi durasi secara bertahap, misalnya hanya 30 menit di pagi dan malam hari.

2. Pilih Sumber Informasi Terpercaya

Alih-alih mengikuti puluhan akun berita, pilih 2–3 sumber yang kredibel. Hindari akun penyebar sensasi, teori konspirasi, atau konten provokatif.

3. Hindari Scroll Sebelum Tidur

Tetapkan waktu bebas layar setidaknya satu jam sebelum tidur. Gunakan waktu tersebut untuk membaca buku, bermeditasi, atau menulis jurnal.

4. Latih Kesadaran Diri (Mindfulness)

Saat tangan mulai refleks membuka ponsel, hentikan sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar butuh membaca ini?” Teknik mindfulness membantu mengembalikan kendali atas kebiasaan impulsif.

5. Isi Waktu dengan Aktivitas Positif

Ganti waktu scroll berlebihan dengan kegiatan yang lebih menyehatkan seperti berjalan kaki, berolahraga ringan, atau bersosialisasi langsung. Aktivitas fisik terbukti efektif menurunkan stres.

6. Kurasi Algoritma Media Sosial

Unfollow akun yang sering memposting berita negatif atau menimbulkan kecemasan. Sebaliknya, ikuti akun yang menginspirasi dan edukatif agar algoritma menampilkan konten positif.

7. Tetapkan Tujuan Jelas Saat Online

Sebelum membuka ponsel, tentukan tujuan spesifik, misalnya “Saya ingin membaca berita ekonomi selama 10 menit.” Setelah selesai, segera tutup aplikasi.

8. Jaga Interaksi di Dunia Nyata

Habiskan lebih banyak waktu dengan keluarga, teman, atau komunitas. Interaksi sosial di dunia nyata membantu menyeimbangkan persepsi kita terhadap dunia.


Peran Media dan Lingkungan

Fenomena doom scrolling juga merupakan refleksi dari lingkungan digital yang berorientasi pada atensi. Oleh karena itu, perlu adanya literasi digital yang lebih baik:

  • Media perlu menyajikan berita dengan konteks yang menenangkan, bukan hanya memancing klik.
  • Pemerintah dan sekolah dapat mengedukasi masyarakat tentang dampak konsumsi berita berlebih.
  • Kita sebagai pengguna harus lebih bijak dan kritis dalam menyerap informasi.

Doom scrolling adalah kebiasaan modern yang tampak sepele tetapi memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental. Terus-menerus membaca berita negatif hanya memperburuk stres, kecemasan, dan pandangan hidup yang pesimis. Dengan menyadari pola perilaku ini dan menerapkan strategi seperti membatasi waktu layar, memilih sumber terpercaya, serta melatih mindfulness, kita dapat kembali mengendalikan diri dan menikmati dunia digital dengan lebih sehat. Ingatlah, menginformasikan diri itu penting, tetapi menjaga ketenangan batin jauh lebih berharga.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan layanan lengkap dari Blooming Health Care. Kami menyediakan jasa vaksinasi, infus vitamin, dan perawatan home care profesional langsung ke rumah, aman, nyaman, dan ditangani tenaga medis berpengalaman. Tanpa antre, tanpa repot, cukup hubungi kami dan tim kami akan datang ke lokasi Anda. Blooming Health Care siap melayani Anda dalam Bahasa Inggris, Indonesia, dan Mandarin untuk pengalaman perawatan yang lebih nyaman dan personal.

Blooming Health Care, solusi sehat dan praktis di era modern. Hubungi WA kami 0813 9077 7205 untuk konsultasi lebih lanjut.


Daftar Referensi

  1. American Psychological Association. (2023). The Impact of Doomscrolling on Mental Health.
  2. Harvard Health Publishing. (2022). Why You Can’t Stop Doomscrolling and How to Break the Habit.
  3. World Health Organization. (2023). Digital Wellbeing and Mental Health in the Information Age.
  4. Mayo Clinic. (2022). Social Media Use, Stress, and Anxiety: What to Know.
  5. Cleveland Clinic. (2023). Doomscrolling: Definition, Causes, and Ways to Stop It.

Baca Juga: Sakit Gigi dan Gusi Bengkak: Penanganan dan Pencegahannya