Angka kematian ibu dan bayi adalah ukuran yang sangat penting untuk menilai sejauh mana kualitas sistem kesehatan di suatu negara. Setiap kematian ibu yang terjadi selama kehamilan, saat melahirkan, atau setelah melahirkan, serta setiap bayi yang meninggal dalam hari-hari awal kehidupannya, mencerminkan masalah serius dalam akses dan kualitas layanan kesehatan. Kematian yang seharusnya dapat dicegah sering kali menjadi indikator adanya kesenjangan dalam bidang sosial ekonomi, infrastruktur, dan pendidikan kesehatan masyarakat yang tidak merata.

Gambaran Global
Di seluruh dunia, kematian maternal masih tetap menjadi permasalahan besar. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2023 diperkirakan sekitar 260. 000 perempuan meninggal akibat komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan, dan lebih dari 90 persen angka tersebut terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah. Dari tahun 1990 hingga 2015, jumlah kematian ibu secara global menurun sebesar 44 persen, namun masih jauh dari sasaran Sustainable Development Goals (SDGs) yang menetapkan batas maksimal 70 kematian per 100. 000 kelahiran hidup.
Kematian bayi juga masih sangat tinggi. WHO melaporkan bahwa pada tahun 2022 terdapat sekitar 2,3 juta bayi yang meninggal dalam 28 hari pertama kehidupan. Meskipun jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan 5 juta kematian neonatal pada tahun 1990, penurunan tersebut berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan kematian bayi setelah fase neonatal.
Laporan dari The Lancet Global Health tahun 2023 memprediksi bahwa rasio kematian maternal (MMR) di seluruh dunia telah mengalami penurunan dari 342 menjadi 223 kematian per 100. 000 kelahiran hidup antara tahun 2000 dan 2020. Namun banyak negara mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir, terutama disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan ketidaksetaraan dalam akses terhadap layanan kesehatan dasar.
Kondisi di Indonesia
Angka Kematian Ibu
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperoleh dari Long Form Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu di Indonesia tercatat mencapai 189 kematian per 100. 000 kelahiran hidup. Beberapa provinsi menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, seperti Papua (565) dan Papua Barat (343).
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan yang didapat melalui sistem Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) mencatat 4. 129 kasus kematian ibu pada tahun 2023. Meskipun jumlah ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, pencapaian ini masih jauh dari target nasional yang menetapkan angka 183 per 100. 000 kelahiran hidup pada tahun 2024 seperti yang diatur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Angka Kematian Bayi
Sementara itu, angka kematian bayi (AKB) juga menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data dari Long Form SP2020, tingkat kematian bayi di Indonesia mencapai 16,85 kematian per 1. 000 kelahiran hidup, yang menurun signifikan dari 26 per 1. 000 pada tahun 2010. Meskipun demikian, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand.
Data dari United Nations Population Fund (UNFPA) menunjukkan adanya disparitas yang signifikan antarprovinsi, di mana wilayah dengan infrastruktur kesehatan yang kurang baik cenderung memiliki AKB dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan daerah urban yang besar.
Faktor Penyebab Kematian Ibu dan Bayi
Faktor Kematian Ibu
Sebagian besar penyebab kematian ibu di Indonesia sebenarnya bisa dicegah. WHO dan berbagai penelitian lokal menyebutkan bahwa faktor-faktor utama yang menyebabkan kematian meliputi perdarahan berat setelah melahirkan, infeksi, hipertensi selama kehamilan (seperti preeklamsia dan eklamsia), komplikasi saat persalinan, serta keguguran yang tidak aman.
Faktor non-medis seperti keterlambatan dalam mencari bantuan, keterlambatan hingga tiba di fasilitas kesehatan, dan keterlambatan dalam mendapatkan pelayanan juga berkontribusi. Kurangnya tenaga kesehatan yang terampil, terbatasnya fasilitas untuk melahirkan secara darurat, serta faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan ibu juga meningkatkan risiko kematian.
Di beberapa wilayah, terdapat banyak ibu yang masih melahirkan di rumah tanpa bantuan profesional medis karena jarak yang jauh, biaya yang mahal, atau karena faktor budaya tertentu. Perubahan tren juga mulai terlihat, di mana masalah kesehatan non-obstetri seperti penyakit jantung dan diabetes semakin menambah risiko kematian pada ibu.
Faktor Kematian Bayi
Kematian bayi sangat berkaitan dengan kesehatan ibu, pelayanan prenatal, dan mutu perawatan neonatal. Beberapa faktor yang sering terjadi meliputi kelahiran prematur, berat badan lahir yang rendah, masalah pernapasan saat lahir, serta infeksi seperti sepsis dan pneumonia, dan komplikasi yang dialami oleh ibu saat melahirkan.
Kualitas perawatan untuk bayi yang baru lahir masih menghadapi berbagai tantangan. Di banyak tempat, ketersediaan inkubator, tenaga medis untuk perawatan neonatal, dan obat-obatan penting masih belum memadai. Kurangnya pemahaman ibu tentang perawatan bayi dan gizi juga meningkatkan risiko.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kematian seorang ibu berdampak luas bagi keluarga dan komunitas. Ketika seorang ibu wafat, keluarga kehilangan sosok utama dalam pengasuhan anak dan manajemen rumah tangga. Anak-anak yang kehilangan ibu saat lahir memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami kekurangan gizi, putus sekolah, dan terjebak dalam kemiskinan.
Kematian bayi juga mempengaruhi perkembangan manusia jangka panjang. Setiap kali satu nyawa hilang di usia dini, potensi produktif bangsa hilang. Selain itu, tingkat kematian yang tinggi dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan dan memperlebar kesenjangan sosial.
Upaya Pemerintah dan Masyarakat
- Pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai langkah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui kebijakan nasional dan program di tingkat komunitas.
- Peningkatan mutu layanan antenatal (ANC) dilakukan melalui pemeriksaan berkala, deteksi awal komplikasi, dan pemberian suplemen gizi. Pemerintah juga berusaha agar setiap persalinan ditangani oleh tenaga medis yang terlatih, melalui program Safe Motherhood dan perbaikan fasilitas bersalin PONED dan PONEK di puskesmas dan rumah sakit.
- Penguatan sistem rujukan untuk ibu hamil dan bayi baru lahir juga menjadi prioritas, agar ibu dengan risiko tinggi segera mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Di samping itu, program Keluarga Berencana (KB) diperluas untuk menjarangkan kehamilan yang membawa risiko tinggi.
- Pendidikan kesehatan reproduksi, pemberdayaan kader posyandu, serta kampanye hidup bersih dan sehat juga sangat penting. Dalam era digital, terdapat inisiatif layanan telemedisin untuk ibu dan anak yang memperluas akses untuk konsultasi kehamilan di area terpencil.
- Namun, upaya ini masih menghadapi berbagai tantangan seperti distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, terbatasnya fasilitas di daerah perbatasan, dan budaya patriarki yang mempengaruhi pengambilan keputusan terkait kesehatan ibu.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Beberapa masalah utama yang menghalangi penurunan signifikan pada angka kematian ibu dan bayi mencakup kesenjangan geografis antara Indonesia bagian barat dan timur, kurang optimalnya akses transportasi darurat untuk ibu hamil, keterlambatan pelaporan kematian ibu dan bayi, ketidakmerataan pembiayaan kesehatan, serta rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin. Tantangan-tantangan ini memerlukan kerjasama lintas sektor antara pemerintah, tenaga medis, komunitas, NGO, dan sektor swasta agar layanan kesehatan ibu dan anak dapat diakses secara merata dan berkualitas oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tingkat Angka kematian ibu dan bayi
Angka kematian ibu dan bayi mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat sekaligus menunjukkan kekuatan sistem kesehatan nasional. Meskipun Indonesia telah mencapai kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, angka tersebut masih terbilang tinggi jika dibandingkan dengan standar global.
Penyebab kematian ibu dan bayi bersifat kompleks, meliputi faktor medis, sosial, ekonomi, dan budaya. Upaya untuk mengurangi angka ini memerlukan pendekatan yang menyeluruh: perbaikan layanan kesehatan dasar, peningkatan kualitas tenaga medis, pendidikan bagi masyarakat, serta pembangunan sistem rujukan dan transportasi darurat yang lebih baik. Hanya dengan adanya komitmen yang terus-menerus dan kolaborasi dari semua pihak, Indonesia mampu mempercepat pengurangan angka kematian ibu dan anak, menciptakan generasi yang lebih sehat, serta mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan layanan lengkap dari Blooming Health Care. Kami menyediakan jasa vaksinasi, infus vitamin, dan perawatan homecare profesional langsung ke rumah—aman, nyaman, dan ditangani tenaga medis berpengalaman. Tanpa antre, tanpa repot, cukup hubungi kami dan tim kami akan datang ke lokasi Anda.
Blooming Health Care, solusi sehat dan praktis di era modern. Hubungi WA kami 0813 9077 7205 untuk konsultasi lebih lanjut.
Daftar Referensi
- World Health Organization. (2023). Maternal Mortality. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/maternal-mortality
- World Health Organization. (2023). Newborn Mortality. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/newborn-mortality
- The Lancet Global Health. (2023). Global, regional, and national progress towards SDG targets for maternal mortality, 2000–2020.
- Badan Pusat Statistik (BPS). (2021). Long Form Sensus Penduduk 2020: Angka Kematian Ibu dan Bayi Menurut Provinsi.
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Laporan Maternal Perinatal Death Notification (MPDN).
- UNFPA Indonesia. (2022). Mortalitas di Indonesia: Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020.
- Universitas Gadjah Mada. (2023). Keterlambatan Diagnosis Jadi Faktor Penyebab Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi.
- Journal of Social Medicine, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya. (2023). Analisis Faktor Penyebab Kematian Ibu di Indonesia.
Baca Juga: Cara Mengobati Cacing dalam Tubuh Secara Tepat dan Aman
