Vaksin Hepatitis A&B

Sekilas Tentang Hepatitis A & B
Hepatitis A dan Hepatitis B merupakan infeksi virus yang menyerang organ hati.
Gejala hepatitis A dapat berupa demam, penurunan nafsu makan, mual, nyeri perut, kulit dan mata menguning (jaundice), serta urin berwarna gelap. Sementara itu, hepatitis B umumnya ditandai dengan mual, muntah, jaundice, urin gelap, dan rasa tidak nyaman pada area perut.
Manfaat Vaksin Hepatitis A & B
Vaksin Hepatitis A & B dirancang untuk membantu melindungi tubuh dari infeksi virus yang dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan komplikasi serius.
Jadwal Vaksin Hepatitis A & B
Anak-anak
- Diberikan sebanyak 2 dosis.
- Interval pemberian sekitar 6–12 bulan.
- Umumnya diberikan pada usia 2–15 tahun.
Dewasa & Lansia
- Diberikan sebanyak 3 dosis.
- Jadwal pemberian pada bulan ke-0, ke-1, dan ke-6.
Komposisi Vaksin Hepatitis A & B
Vaksin Hepatitis A
- Antigen Hepatitis A – virus yang telah diinaktivasi sehingga tidak menyebabkan penyakit, namun tetap merangsang pembentukan antibodi.
- Adjuvan – membantu meningkatkan respons imun tubuh.
- Zat penstabil dan pengawet – menjaga kualitas vaksin selama penyimpanan.
Vaksin Hepatitis B
- Antigen Hepatitis B (HBsAg) – protein permukaan virus yang diproduksi secara rekombinan untuk merangsang respons imun.
- Adjuvan – meningkatkan efektivitas respons imun.
- Zat penstabil dan pengawet – menjaga kestabilan vaksin.
KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)
Reaksi setelah vaksinasi umumnya ringan dan sementara, seperti:
- Reaksi lokal: kemerahan, nyeri, atau pembengkakan di area suntikan.
- Reaksi sistemik: demam ringan, kelelahan, sakit kepala, atau nyeri otot.
- Reaksi alergi: jarang terjadi, namun dapat berupa reaksi ringan hingga kondisi serius seperti anafilaksis.
Kontraindikasi Vaksin Hepatitis A & B
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan sebelum vaksinasi meliputi:
- Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin.
- Riwayat reaksi alergi serius setelah vaksin hepatitis sebelumnya.
Perhatian Khusus
- Kehamilan dan menyusui: sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.
- Imunosupresi: respons vaksin dapat berbeda pada individu dengan sistem imun lemah.
- Riwayat gangguan neurologis atau kejang: perlu pemantauan khusus karena demam ringan dapat terjadi setelah vaksinasi.